Wednesday, December 7, 2016

Review Buku Letters From Turkey - Faris BQ

Yeay akhirnya bisa mereview buku lagi setelah sekian lama... Em, baru-baru ini saya menyelesaikan membaca buku Letters from Turkey karya faris BQ. Untuk membaca buku berjumlah 405 halaman ini kubutuhkan waktu seminggu. Bukan karena bukunya yang membosankan. Tetapi saya membaca nya dengan santai supaya pesan inspiratif yang disampaikan penulis, bisa benar-benar tertanamkan di otak. 

Berbicara masalah surat, saya cukup berpengalaman (*sambil kibas jilbab). Secara dulu, saya sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan Administrasi Perkantoran, hampir tiap hari kami disuruh menulis surat dengan berbagai macam model mulai dari Full block Style hingga  Hanging Paragraph Style (Bentuk Menggantung). Waktu SD dulu juga sering nulis surat, Surat ijin ndak masuk  buat Wali Kelas, abis itu minta ayah tanda tangani. Hahahaha. Pas tamat kuliah, saya juga rajin nulis surat. Surat Lamaran Kerja. Dalam seminggu, bs sampai tiga kali ke kantor pos untuk ngirim surat lamaran ke Perusahaan-Perusahaan. Sampai-Sampai Pegawai Kantor Posnya bosan liat wajah saya. Ya ampun, kalo ngenang ini rasanya berkesan banget, hahahaha. Untuk surat Pribadi, saya juga sempat beberapa kali kirim surat ke beberapa sahabat. Rasanya bahagia sekali menulis surat dengan tulisan tangan dan kertas warna warni. Bercerita tentang ini itu dan hal-hal yang kurang penting. Saya sempat kirim surat ke teman kelas waktu SMA yang kuliah di Jogja. Sempat juga kirim surat ke teman SMP yang melanjutkan SMA nya di Palembang. Dan Tamat Kuliah, saya juga masih suka berkirim surat via email kepada sahabat-sahabat terdekat. Menulis surat dan menumpahkan cerita dalam bentuk tulisan, rasanya berbeda sekali, jika dibandingkan dengan berbicara langsung lewat telepon. Rasanya ada perasaan bahagia meletup-letup saat sudah mendapat balasan surat. Dan kali ini bisa membaca surat yang datang dari Turki. Yeay....

Judul Buku     : Letters From Turkey
Penulis Buku   : Faris BQ
Penerbit         : Salsabila Pustaka Al Kautsar Group
Cetakan          : Pertama
Tahun Terbit   : 2013
Tebal Buku      : 405 Halaman



Buku ini ditulis oleh Ahmad Faris atau lebih dikenal dengan nama Faris BQ. Beliau Alumnus Universitas Al Azhar, Kairo. Beliau juga sempat kuliah di Universitas Indonesia Jakarta. Dan saat menulis buku ini, Beliau melanjutkan study doktoral nya di Universitas Ankara, Turki. Selain Buku Letters from Turkey ini, Mas Faris juga telah menulis buku lain berjudul Life is Miracle (2010) dan New Package of Happines (2009). Hem, semoga besok-besok bisa berjodoh bertemu buku-buku keren karya lain dari Mas Faris.

Yups, cek Review Buku nya....

Jadi buku ini mengisahkan tentang Faris BQ yang melanjutkan Study di Turki meninggalkan keluarga tercintanya di tanah air. Dimulai dari Mas Faris berangkat ke Turki untuk pertama kalinya, bersama rombongan penerima beasiswa lainnya. Menjalani kehidupan yang tidak mudah disana. Belajar bahasa sekaligus melanjutkan study, berjuang melawan rasa rindu nya pada istri yang baru saja dinikahinya. Kerinduan nya semakin memuncak hingga kemudian ia menuliskan surat untuk istrinya demi mengobati rasa rindu itu. Sampe sini, saya merasa secara diam-diam membaca buku diary orang lain. Atau seperti membaca diam-diam surat yang ditujukan bukan untuk saya. Tetapi saya menikmatinya. Merasakan perasaan yang tertumpah dalam setiap kata. Buku ini bukan hanya berisi surat saja, tetapi juga tentang pengalaman penulis selama berada di Turkey. Penulis juga mengajak kita berjalan-berjalan menikmati keindahan Turkey, Mencicipi kuliner-kuliner Turkey dan mengambil setiap hikmah dari apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan selama berada di Turkey. Di dalam buku sendiri terdapat total Bab judul sebanyak 106 judul. Setiap Bab Judul hanya terdiri dari beberapa lembar pembahasan. 


Gambar Panorama Indah Turkey
Semua Bab Judul menarik, tetapi favoritku sendiri ada pada Bab Judul tentang "Anatomi Kebencian". Disitu penulis mengajak kita mengingat kembali betapa banyak kebencian dalam diri, betapa kebencian sudah mulai diajarkan pada kita sejak dini, menyalahkan keadaan sekitar seperti kursi atau meja saat kita tersandung, menyalahkan sistem yang baik hanya kerena ia tidak menguntungkan kita. Memusuhi orang lain hanya karena ia berbeda pendapat dengan kita. Penulis mencoba mengingatkan kita bahwa kebencian seperti tembok tebal, gelap dan tinggi yang menghalangi kita untuk memperoleh kebaikan. Menutupi hati kita untuk menerima kebajikan dan membiarkan diri tetap dalam kegagalan dan keterpurukan sementara orang yang kita benci telah melesat ke bulan (hal.76). Jadi mulai dari sekarang Stop membenci.


Salah satu kutipan puisi indah
Selain itu aku juga paling suka Bab Judul tentang Bahasa Hujan. Secara sekarang sudah memasuki musim penghujan. Beberapa waktu lalu aku sering mengeluh tentang hujan deras yang menghalangi aktivitas, mengeluh tentang dinginnya suhu udara saat hujan turun, dan mengeluh tentang jalan-jalan yang digenangi air hujan. Tetapi sekarang aku tidak mengeluh lagi, karena setelah membaca buku ini, aku telah mengenal bahasa hujan. Bahwa Hujan adalah salah satu anugerah dari Tuhan. Dimana ia akan tetap turun ke bumi tanpa pilih kasih. Menyirami kehidupan dan membasahi harapan. Hujan. Satu kata yang selalu memberi semangat. Mengajarkan untuk tidak pernah letih beramah tamah kepada alam. Mengajarkan bahwa bersikap baik tidak boleh pilih-pilih. Hujan juga membawa pesan romantis yang hangat. Karena hujan, orang - orang akan berteduh sejenak di bawah bayangan atap, ibu yang melindungi anaknya, dan pasangan yang berdekatan di bawah payung serta jendela mobil yang basah. Ah.. hujan kau hadir membawa pesan kesejukan dan untuk semakin mensyukuri nikmat cahaya matahari yang hangat (Hal 201). Selain dua bab ini masih banyak bab lain yang menjadi favoritku. Tetapi cukup kusimpan sendiri saja dan kuingat-ingat dalam hati. 


Bukunya dipenuhi gambar cantik


Terakhir, aku mau mengutip puisi yang tersemat di buku ini (hal.73)


MENGEJA CARAKU, MENGEJA KAMU
Tadi malam, kekasihku
di tengah gelombang beku
aku memungut bulir bulir rindu
pada tangkai zaitun yang biru

Kuingat wajahmu
Kueja namamu
Itulah caraku, yang gagap dan kaku
Persetan dengan panggung cinta klasik yang rindu

Lihat, 14 Februari tak pernah kutunggu
biar saja berlalu
Ku tak mau, ku tak mau
Paling anak-anak muda yang tahu menahu
dimana dia harus titipkan rasa itu
cuma begitu.

Kuingat wajahmu
Kueja namamu
Itulah rasaku, yang mungkin tawar dan jenuh
Masa bodoh ah dengan sejuta aroma rindu
yang dikenalkan oleh orang-orang terdahulu
Aku punya caraku
Aku punya kamu.

Wuah.. so sweet banget ya. Buku ini penuh dengan pesan-pesan romantis dan emosional. Tetapi penuh juga dengan nasehat dan pesan inspiratif. Kata-katanya ringan dan mudah di cerna. So Recommended banget buat kamu....




Saturday, December 3, 2016

Reasons Why I Must Write

Why I Must Write - Orphan Pamuk (Peraih Nobel Sastra)

I Write because I have an innate need to write
I Write because I can't do normal work as other people do

I Write because I want to read books like the ones I write
I Write because I am angry at everyone
I Write because I love sitting in a room all day writing
I Write because I can partake of real life only by changing it

I write because I want others, the world, to know what sort of life we lived, and continue to live, in Istanbul, in Turkey

I Write because I Love the smell of paper, pen, and ink
I Write because I believe in literature, in the art of the novel, more than I believe in anything else.

I Write because it is a habit, a passion.
I Write because I am afraid of being forgotten
I Write because I like the glory and interest that writing brings

I Write to be alone
Perhaps I Write because I hope to understand why..
I am so very, very angry at everyone

I Write because I like to be read
I Write because one I have begun a novel, an essay, a page I want to finish it
I Write because everyone expects me to write

I Write because I have a childish belief in the immortality of libraires, and in the way my book sit on the shelf
I Write because it is exciting to turn all life's beauties and riches into words
I Write not to tell a story but to compose a story

I Write because I wish to escape from the foreboding that there is a place I must go but - as in a dream - can't quite get to

I Write because I have never managed to be happy
I Write to be Happy....

(dikutip dari buku Letters from Turkey-hal 398)



"Saya berharap ketika menemukan diri yang kehilangan semangat untuk menulis, alasan-alasan ini bisa kembali memotivasi. "I WRITE TO BE HAPPY"


gambar dari combiboilersleeds.com